Jumat, 10 Oktober 2014

si penulis yang kehilangan tulisannya #catatansibodoh

Ini mungkin cerita yang benar terjadi di dunia nyata. Ketika penulis merasa tidak bisa menulis lagi atau mungkin beberapa alasan yang mereka masing-masing. Mungkin dengan tulisan  ini saya mau menceritakan sebuah cerita dimana seorang penulis mengalami masa-masa itu.

Suatu hari, sebut saja budi. Budi adalah seorang penulis amatiran. Usianya cukup muda. Dia memiliki banyak ide untuk dijadikan tulisan. Namun pada masa ini dia mengalami sebuah masa dimana dia tidak bisa menulis sebuah tulisan. Budi mencoba untuk menulis terus menerus karena dia hanya tau mencoba untuk menulis lagi. Dia ingin meneruskan minatnya untuk menulis. Dia tidak ingin menyerah.

Beberapa tulisan telah coba ditulis namun emosinya masih belum stabil. Hanya karena masalah yang bersinggungan dengannya tulisan yang telah ditulis entah dihapus entah dibakar atau mungkin dibuang tanpa sadar. Dia merasa tulisannya tidak ada menarik sama sekali.

Dia mencoba melihat film untuk mengembalikan ide menulisanya kembali. Beberapa film telah dilihatnya dan membuat emosinya terpengaruh, akan tetapi dia masih bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa di film itu tampak begitu menarik. Apa point yang membuat menarik.

Film dan tulisan itu sama saja. Tujuan keduannya adalah untuk menyampaikan pesan dari si pembuat ke penerima yaitu penonton bagi film dan pembaca bagi penulis. Mungkin sesuatu yang sederhana menjadi begitu menarik bagi seseorang dan menjadi "nothing" bagi yang lainnya. Dimana pun kamu berkarya pasti ada yang tidak suka dengan karyamu atau mungkin pemikiranmu. Banyak yang bilang "hatter" adalah orang yang spesial karena mereka yang sibuk memikirkan kekurangan kita sehingga kita tahu kekurangan kita. Tanpa "hatter" mungkin seseorang akan terlalu sombong akan kemampuannya karena tak merasa dirinya kurang ataupun mungkin tak tahu akan kekurangan apa yang dimilikinya.

Pemikiran Budi berputar-putar memikirkan apa yang bisa ditulis. Terbersit dipikirannya ingin menulis mengenai kehidupan remaja. Dia baru ingat kalau di masa remajanya kurang punya pengalaman yang bisa untuk diceritakan.

Saat itu Budi masih berada di rumah. Di sebuah kamar tempat dia tidur sehari-hari. Tiduran. Dengan pikiran yang begitu berputar-putar tanpa titik temu.

"Aku seorang penulis tanpa tulisan gini?! huft..." keluhnya. Dia berbaring menerawang di langit-langit kamar mencoba untuk mendapatkan ide agar dia bisa berkarya kembali.

Beberapa waktu lalu dia mendapat sebuah komentar mungkin selama ini idenya hanya berdasarkan teori bukan dari pengalaman yang dia alami sendiri. Dia terus berfikir kenapa dia seperti ini dan mencoba mencari penjelasannya.

"Apakah hanya karena komentar itu? Menurutku jika kita menulis fiksi itu berdasarkan imajinasi kita. Mungkin mengambil beberapa teori di kehidupan nyata untuk menjadi bumbu cerita karena cara berfikir di cerita menentukan buat siapa tulisan itu. Jadi seperti kita bercerita pada adik kita yang mungkin masih di sekolah dasar tentu berbeda dengan teman kita yang seumuran." Dia tanpa sadar berkata pada dirinya sendiri.

Terbersit lagi dipikirannya sebuah pertanyaan. Kapan dia bercerita dari hati ke hati dengan seseorang yang bisa membuat dia bisa lebih lepas dalam bercerita. Mungkin sudah lama atau mungkin belum pernah sama sekali.