Senin, 09 Februari 2015

Cerita pertamaku (lanjutan)

Cerita sebelumnya berakhir ketika si monyet terjatuh dari pohon karena kekenyangan. Berikut ini adalah lanjutan ceritanya versiku yang membuatku membuat aku bersemangat untuk mengarang cerita lain. Pertama dengan membuat beberapa versi lanjutan dari materi cerita awal, Sembari mengisi kesibukan sehingga cukup menghilangkan kebosanan yang lebih bermanfaat, Nggak usah lama-lama dah berikut ini adalah salah satu versi cerita lanjutan yang aku buat,

Si monyet terjatuh dari pohon karena kekenyangan. Ketika terjatuh perut si monyet tak sengaja tersangkut ranting pohon dan robeklah perutnya.

"byuuurrr...." suara si monyet terjatuh ke dalam sungai.

si kodok hanya diam dan melihat monyet terjatuh. Dia masih kesal terhadap si monyet karena serasa dibodohi oleh seorang sahabat yang percaya olehnya. Di dalam hatinya masih dipenuhi oleh emosi dan kemarahan yang membuat dia larut dalam gumaman dalam hatinya sendiri sambil berlalu dari tempat itu.

Si monyet pun pingsan. Badan si monyet terhanyut mengikuti arus sungai yang entah akan membawanya kemana. Mungkin saja itu adalah akhir dari hidupnya menjadi makanan ikan. Namun alam memiliki kehendak lain. 

Tubuh si monyet tersangkut akar pohon yang tumbuh di sekitar sungai. Kebetulan di sana ada manusia yang lewat. Dia nampaknya sedang meneliti sesuatu. Manusia itu penasaran terhadap benda yang tersangkut di sungai tersebut. Dia mendekati itu dan ternyata menemukan tubuh si monyet yang telah robek perutnya. Sejenak manusia itu hanya mengamati dan akhir membawa pulang tubuh si monyet.

Keesokkan paginya si monyet terbangun. Si monyet melihat sekelilingnya tampak asing. Si monyet mengira apakah ini dunia setelah semua hewan mati. Ketika itu si monyet mencoba untuk bergerak. Dia merasakan sakit di bagian perutnya. Dia baru ingat terhadap beberapa kejadian sebelum dia tak sadarkan diri. Dia berfikir apakah ini karma terhadap apa yang telah dia perbuat selama ini. Ingatan semua perbuatan buruk terhadap temannya si kodok bermunculan.

Si monyet mulai merasa dingin. Dia merasakan ketakutan. Terdengar suara langkah kaki yang berjalan di lantai kayu mulai mendekati dimana dia berada. Suara itu makin mendekat. Si monyet semakin ketakutan sampai suara detak jantungnya sendiri terasa terdengar keras begitu pula dia dengan suara nafasnya.

"Krieeeetttttt....." suara pintu kayu ruangan itu terbuka. Munculah sesosok hitam yang kemudian jelas terlihat. Dia adalah manusia yang menemukan dan membawa tubuh si monyet sehingga sampai ke ruangan tersebut. Si monyet terpaku. Terdiam. mengamati manusia yang baru masuk dan bersikap waspada ketika mulai mendekatinya. Namun terlambat, sikap waspadanya kurang begitu cepat. Si manusia memegang tangan si monyet kemudian menyentuh beberapa bagian tubuh si monyet.

Si monyet hanya bengong melihat apa yang manusia lakukan terhadap dirinya. Hanya menempelkan tangannya ke beberapa bagian tubuh si monyet kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu.

Si monyet tersadar kalau tubuhnya terasa berbeda. Sedikit rasa sakit di bagian perut. Dia melihat tubuhnya terbalut kain putih. Masih dipenuhi pertayaan dalam pikirannya tentang tempat yang kini dia berada. Apakah ini benar tempat dimana semua hewan yang telah mati. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah setelah ini akan dimulai penyiksaan untuk diri si monyet.

Namun tiba-tiba terdengar suara perut si monyet yang menandakan bahwa dirinya lapar. Hidung si monyet bergerak-gerak mencium bau yang dikenalnya. Bau itu seperti pisang. Ketika mencari dimana asal bau tersebut, langsung si monyet mendapati sesisir pisang di atas meja dekat dirinya berbaring. Si monyet langsung bergerak mendekati tempat pisang itu berada dan tanpa pikir panjang dia langsung memakannya. Setelah kenyang memakan pisang tersebut dia langsung tertidur pulas.

Di saat dia tidur, si monyet sempat terbangun karena merasa ada yang memperhatikannya namun karena matanya begitu berat dia langsung tidur lagi. 

Beberapa hari kemudian, si monyet dibawa oleh manusia yang menyelamatkan ke tepian hutan. Balutan perban yang melilit tubuh si monyet dibuka. Setelah itu perlahan si manusia berjalan menjauhi si monyet. Si monyet dan si manusia saling menatap. Seakan berkomunikasi tanpa suara. si monyet mengerti, dia disuruh untuk kembali ke dalam hutan. Kembali ke kehidupannya yang sebelumnya.

Si monyet perlahan menjauh dan hilang dari pandangan si manusia.

Si monyet berayun dari satu pohon ke pohon lain mengingat tempat yang dilalui jauh sebelum kejadian dia jatuh dari pohon. Dia teringat pada kodok, seorang temannya yang sering dia kibulin. tempat pertama yang ingin dia datangi adalah tempat dimana temannya, si kodok berada.

Tak beberapa lama si monyet sampai di tempat si kodok. Beruntung si kodok berada di tempatnya. Dia sedang duduk di sebuah sudut tempat tersebut. Dengan agak ragu si monyet mendekati si kodok. tampak si kodok masih belum menyadari kehadiran si monyet.

"Dok, kodok...." kata si monyet.

Si kodok menoleh ke arah suara itu. Tampak di sana mata si kodok berair seperti dia habis menangis. Si kodok mengusap matanya yang berair itu untuk bisa melihat jelas siapa sebenarnya yang berada di depannya saat itu.

"mmmm..... monyet...??!!" kata si kodok yang agak terbata,
"Bagaimana kabarmu, dok?" tanya si monyet masih canggung.
"Ini benar si monyet temanku??" kata si kodok, matanya semakin berair. Tertumpah air mata si kodok yang sempat tertahan.
"Iya, ini si monyet temanmu.." kata si monyet sambil tertunduk merasa malu dan canggung. Si monyet mulai terisak, terpengaruh suasana yang ada di sana.
"Setelah berbeda alam pun kamu masih ingat pada temanmu ini?" kata si kodok dengan air yang terus mengucur di matanya.
"Aku masih hidup, Ceritanya panjang, sebelum aku cerita aku ingin minta maaf atas tingkahku selama ini terhadapmu...." kata si Monyet.
"Kamu masih hidup?... benar???.... jangan kamu pikirkan itu... aku senang kamu masih hidup... kamu adalah itu teman terbaikku dari kecil." kata si kodok.
"Terima kasih, dok" kata si monyet sambil memeluk si kodok.

Begitulah akhir dari cerita persahabatan mereka. Tentu dengan kejadian tersebut persahabatan mereka makin erat sampai dengan anak cucu mereka. Cerita semasa SD. yang diberi dengan sedikit pengembangan karena sekarang memiliki tambahan waktu daripada waktu tugas SD dulu. Semoga cerita ini dapat mengisi waktu luang dan apabila terdapat kekurangan diharapkan saran dan kritik pembaca. Terima kasih sudah membaca ^^