Selasa, 07 Mei 2013

Cerita Masa Kecil Si Bodoh

Di dunia ini telah di lahirkanlah seorang manusia yang mendapat sebutan si bodoh.. walaupun nama aslinya tidak demikian. Banyak pikiran-pikiran bodohnya yang membuat dia dipanggil seperti itu. Semasa kecil dia tak mendapat kasih sayang seperti yang seperti anak pada umurnya dapatkan. Dia sering dapat dimarahi hanya mungkin karena masalah sepele. Mungkin karena masalah ekonomi yang membuat dia dapat perlakuan seperti itu. Dalam umur segitu dia dipaksa mengerti akan keadaan tanpa boleh bertanya ataupun sharing dengan siapapun. Kadang dia melakukan hal yang agar membuat hati memahami keadaannya. Dia mencoba  mengakui keadaan dan melakukan hal-hal yang bisa membantu orang tuanya. Tapi terkadang dia dimarahi kenapa dia melakukan hal itu. Dia coba menuruti kemauan orang tuanya dengan tidak melakukan hal itu, tapi yang ia dapat hal yang sama yaitu dimarahi karena tak melakukan hal yang berguna untuk membantu orang tuanya.

Pikirannya selalu berputar-putar antara mana yang salah mana yang benar. Kenapa untuk dirinya selalu salah. Anak lain yang seumurnya kenapa mereka bisa begitu enjoy dan merasa yakin atas segala pilihannya. Dalam hati si bodoh berfikir apakah emang aku yang begitu bodoh? setiap kali dimarahi mereka tak segan-segan main kasar. Terkadang jika dia tak bisa menjawab soal di sekolah atau melakukan kesalahan tanpa sadar dia menyalahkan dirinya sendiri. Terkadang dia menujuk-nujuk kepalanya sambil berkata "Dasar bodoh! Tolol! nggak bisa jawab soal begituan padahal di kelas ada yang bisa". Sempat suatu ketika hanya untuk bercanda pada saudara kandung saja juga mendapat perlakuan yang sama. Dia kadang  betah apabila berada di rumah tetangganya.

Di sana dia melihat orang tua dengan anaknya bisa bercanda sepertinya bahagia. Ketika dia berada di tempat itu dia juga merasakan suatu kebahagian hanya dengan melihatnya. Dia tak ingin kebahagiaan mereka jadi miliknya tapi entah kenapa dia menjadi betah dengan suasana itu. Dia tak pernah menyalahkan nasib yang membuat dia merasakan semua hal yang dia alami. Sesampai di rumah dia sempat cerita kepada orang tuanya tentang apa dilihatnya di rumah tetangganya itu. Sempat salah satu orang tuanya berkata "aku juga bisa seperti itu". Ketika si bodoh mendengar kata itu  hatinya merasakan suatu rasa senang. Dia pun dapat perlakuan sama seperti yang dikatakan. ketika hari libur dia bisa bercanda dengan ayah, beliau yang berkata begitu dan beliau yang merealisasikannya. Namun itu cuman berlangsung beberapa saat, Ayah si bodoh kemudian sering terlihat begitu tak enak hati dan setiap diajak bercanda selalu marah. Ibu juga begitu. Saat itu rasanya begitu terasa sepi.

Si bodoh kemudian mencari kesibukan dan kebahagiaan ketika orang tuannya sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan tak mau untuk diganggu. Si bodoh bermain di tempat tetangganya yang membuat dia merasakan sebuah kebahagiaan yang sebelumnya dia ceritakan kepada orang tuanya. Si bodoh menghabiskan waktunya dari siang sampai ayahnya kembali dari kerja. Karena sang ibu sibuk dengan pekerjaannya yang tak bisa diganggu. Si bodoh dulu pernah pengen mencoba membantu tapi terlalu banyak tanya dan hanya merusak semuannya. Si bodoh kembali ke rumah hanya menuruti perintah orang tua untuk kembali ketika ayah pulang dari kerja. Akan tetapi setelah Ayah kembali, dia merasa tak ada yang bisa dilakukan dengan orang tuanya karena mereka kembali sibuk dengan pekerjaan mereka kalo tidak hanya berkumpul dalam diam. Tak ada yang yang memulai cerita dan cerita dari si bodoh tidak pernah menarik buat mereka karena hanya kegiatan biasa sehari-hari. Dia akhirnya mencari kegiatan dan berada di tentangganya itu lagi karena mendengar suara ketawa keluarga mereka yang sedang bercanda. Si bodoh tertarik dan hanya melihat mereka dari dekat dan kadang ikut tertawa dan tersenyum terhadap yang mereka lakukan. Sampai hampir jam 9 malam akhirnya si bodoh disuruh pulang oleh salah satu orang tua si bodoh.

Dengan nada dan cara yang terlihat marah orang tua si bodoh menyuruh pulang. Hari berikutnya juga sama, akan tetapi pada saat orang tua si bodoh menyuruh pulang, si bodoh enggan pulang karena dia  merasa masih pengen di sana lebih lama lagi. Begitu berulang lagi selama beberapa kali. Akhirnya orang tua si bodoh hanya memberikan sebuah bungkusan hitam dan berkata ,"kalo mau di sana tinggal ada aja dengan mereka". si bodoh pun pulang dengan perasaan agak marah. Hal serupa terulang selama beberapa kali dalam beberapa hari. Si bodoh pun akhirnya nggak begitu lagi walaupun dengan perasaan agak marah. Dia berfikir emang bener ini keluargaku walaupun gimana-gimana aku harus tetap nuruti mereka, " Karena mereka orang tuaku, satu-satunya keluargaku ." . Akan tetapi si bodoh kadang berfikir kenapa dia merasakan nyaman dengan hanya dengan melihat mereka bercanda dan tertawa walaupun mereka tak memberi makan tak memberi minum dari pagi atau siang aku di situ sampai malam hari aku di paksa untuk pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar